Kunjungan ke Musium Sangiran

Sejarah Museum Sangiran Solo Jawa Tengah

Tanggal 25 April Siswa kelas X SMADA Kediri berkunjung ke Musium Sangiran. Dengan diantar 7 bis dan 14 guru pendamping.  Tujuan dari kunjungan ini adalah untuk mengenal dan mempelajari Sejarah Musium Sangiran. Museum Sangiran merupakan museum yang menampilkan benda-benda purbakala dari situs penggalian arkeologis di Jawa Tengah. Lebih tepatnya di Surakarta. Situs penggalian ini mendapatkan fosil-fosil manusia purba seperti Pithecanthropus erectus, Meganthropus dan beberapa fosil lain. Pada tahun 1977, pemerintah Indonesia menetapkan area ini sebagai cagar budaya. Hinggar akhirnya situs Sangiran mendapat perhatian dari UNESCO dan ditetapkan sebagai situs warisan dunia pada tahun 1996. Kini situs purbakala Sangiran menjadi salah satu situs yang sangat penting untuk mempelajari fosil manusia. Setara dengan Situs Zhoukoudian di China, Situs Danau Willandra di Australia, Situs Olduvai Gorge di Tanzania dan Situs Sterkfontein di Afrika Selatan. Cukup banyak fosil dan benda purbakala yang ditemukan di Sangiran.

Sejarah Museum Sangiran

Sejarah Museum SangiranSejarah Museum Sangiran tak lepas dari sejarah bagaimana area Sangiran ini menjadi situs penggalian purbakala. Karena itulah kita harus mengetahui sejarah Sangiran terlebih dahulu. Sejarah Sangiran sudah dimulai sejak lama. Bahkan ketika Indonesia masih dijajah oleh Belanda.

Pada tahun 1883, pemerintah kolonial Belanda mengirim seorang ahli paleoanthropologis (merupakan cabang ilmu arkeologi yang fokus untuk mempelajari manusia) untuk melakukan persiapan penggalian di Sangira. Rencana penggalian ini dipimpin oleh Eugene Dubois. Sayangnya, Dubois tidak menemukan fosil-fosil yang menarik. Kemudian Dubois mengalihkan penggaliannya ke Trinil di Jawa Timur. Di Trinil, Dubois berhasil menemukan fosil-fosil secara signifikan. Pulau Jawa memang dikenal sebagai tempat ditemukannya banyak fosil kehidupan purbakala. Para ilmuwan yang memahami langkah-langkah penelitian ilmu sejarah segera datang ke sini.

Pada tahun 1934, seorang antropologis bernama Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald mulai memeriksa area Saingiran. Tahun-tahun berikutnya, von Koenigswald menemukan nenek moyang manusia yang bernama Pithecanthropus erectus. Biasa disebut dengan Java Man atau Manusia Jawa. Kemudian Pithecanthropus erectus diklasifikasikan dan ternyata termasuk kelompok Homo erectus. Enam puluh fosil manusia ditemukan lagi dan diantara penemuan itu terdapat Meganthropus. Von Koenigswald lalu menemukan sebuah fosil berupa kranium bagian atas dari spesies Homo erectus pada tahun 1937 yang berumur kira-kira 0,7 hingga 1,6 juta tahun yang lalu. Kranium atas ini lalu diberi nama Sangiran 2. Selain itu, fosil beberapa hewan buruan manusia purba juga ditemukan

Lama-lama situs purbakala Sangiran ini mulai mendapat perhatian dari pemerintah. Pada tahun 1977, pemerintah Indonesia menetapkan area seluas 56 kmdi sekeliling Sangiran sebagai Daerah Cagar Budaya. Kemudian pemerintah lalu mendirikan museum dan laboraturium sederhana di Sangira. Lalu UNESCO menetapkan Sangiran sebagai Warisan Budaya Dunia pada tahun 1996. Pada tanggal 15 Desember 2011, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan meresmikan museum untuk umum. Pada bulan February 2012, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengunjungi museum dan ditemani oleh sebelas menteri kabinet. Seiring berjalannya waktu, para akademisi dan arkeologis dari Indonesia mempelajari dan meneliti situs ini.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *