MENGAPA HARUS ADA YANG JADI KORBAN

MENGAPA HARUS ADA YANG JADI KORBAN

oleh: Bpk Saiful Hadi,M.Pd.

Koordinator BK SMA.N 2 Kediri

(Edisi 2)

 

Proses menyiapkan siswa kelas XII ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi (PT) merupakan proses yang cukup panjang penuh dengan ketelatenan, kesabaran tersendiri, ini dapat dilihat dari berbagai tahapan yang harus dilakukan oleh pihak Guru Pembimbing sekolah,seperti dijelaskan di bawah ini

Tahap ke I memberikan motivasi kepada siswa mengenai pentingnya mempunyai nilai SMT 1 s/d 5 yang konsisten karena hampir semua PTN dalam merektrut calon mahasiswa jalur SNMPTN mempersyaratkan adanya nilai yang konsisten.

Tahap II begitu siswa kelas XII masuk pertama kali, guru BK kelas XII (peneliti) membagikan daftai isian mengenai rekam jejak raport mulai semester 1 s/d 5 dengan maksud untuk mengetahui kemampuan akademik siswa yang secara tidak langsung dapat digunakan untuk bahan konsultasi siswa dalam memilih jurusan di PTN.

Tahap III peneliti membagikan angket isian pilihan jurusan di PTN jalur SNMPTN yang dilakukan sebanyak 3x sampai mendekati batas finalisasi penentuan jurusan di PTN. Maksud dari angket tersebut untuk mengetahui peta pilihan siswa di PTN. Dari hasil setiap angket akan dianalisis, dibuatkan tabel,salah satunya table nilai kesesuaian, siapa dan berapa jumlah siswa yang memilih jurusan yang sama pada PTN yang sama. Misalnya dari S MAN 2 Kediri yang memilih ITS jurusan Teknik Kimia ada 11 siswa sementara itu quota untuk siswa SMAN 2 setiap tahun tidak lebih dari 5 orang, maka untuk siswa yang merasa menduduki urutan 6 sampai 11 menjadi tidak aman. Untuk anak yang berada pada posisi tidak aman bisa pindah ke PTN lain.

Untuk menentukan rangking peneliti (guru BK) membuatkan tabel nilai kesesuaian misalnya jurusan Teknik Kimia nilai mata pelajaran yang sesuai kimia, fisika, matematika, mulai SMT ls/d 5. Dari hasil ini dapat dibaca siapakah dari 11 anak tersebut yang paling unggul. Tentu saja prediksi pembuatan kriteria nilai kesesuaian di atas tergantung pada kejelian masing- masing guru BK di sekolah.

Faktor lain yang ikut mempengaruhi diterima tidaknya siswa masuk PTN melalui jalur SNMPTN adalah rekam jejak sekolah itu misalnya pada tahun 2014 siswa SMAN 2 yang diterima masuk PTN jalur SNMPTN ada 123 siswa dengan rincian ITB: 17, UI: 4, IPB:-, UNPAD: 3, UGM: 10, UNS: 4, UNAIR: 17, ITS: 33, UB: 10, UNEJ: 4. dst. Sedangkan yang diterima masuk STAN: 52 Siswa, sebagian merupakan siswa yang sudah lebih dulu diterima masuk PTN jalur SNMPTN baik yang sudah diterima di ITB jurusan (FTI, FTMD, SBM), ITS, UNAIR, UNEJ (FK). Pada tahun 2015 siswa yang diterima di PTN jalur SNMPTN 90 orang, dari hasil analisis diketahui turunnya penerimaan berasal dari PTN yang banyak ditinggalkan siswa pada tahun 2014 misalnya ITB, ITS, UNAIR, bahkan dari PTN UNEJ tidak ada siswa yang diterima (0) padahal setiap tahun siswa kami diterima di UNEJ jurusan FK. Adalaporan pada tahun 2014 siswa kami yang diterima, di FK UNEJ alur SNMPTN ternyata tidak dimasuki karena juga diterima masuk STAN, betapa proses yang panjang dan rumit telah menjadi sia-sia ibarat panas setahun dihapus huj in sehari.

Kami tahu keberadaan Lembaga STAN menjadikan maknit yang luar biasa bagi semuasiswa kelas XII bahkan kami mendapatkan informasi kalau pendaftar STAN 2016 berjumlah112.000 jumlah yang sangat banyak.

Kami pernah mencoba membuat angket kepada 300 siswa kelas XIISMAN 2 Kediri yang isinya mengapa anak-anak lebih memilih masuk STAN, mayoritas jawaban spontan anak-anak memilih STAN karena lulusan STAN langsung bekerja, gaji tinggi, dapat beasiswa.

Sebetulnya maksud dan tujuan penelitian ini bukan mencari kambing hitam siapa yang salah tetapi semata-mata ingin mencari jalan keluar yang terbaik agar kasus seperti ini tidak akan terulang kembali. Dengan tidak mengurangi rasa hormat dan bukan maksud kami untuk mengintervensi kebijakan lembaga pendidikan STAN dalam merekrut calon mahasiswa, kalau boleh kami memberikan masukan ada alternatif yang mungkin dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam merekrut calon mahasiswa agar supaya tidak ada pihak yang dirugikan .

Di bawah ini ada alternatif – alternatif yang mungkin dapat dijadikan bahan pertimbangan dalam merekrut calon mahasiswa. Misalnya :

  1. Bagi siswa kelas XII yang sudah masuk PTN jalur SNMPTN tidak dibolehkan melanjutkan/mengikuti tes masuk STAN selanjutnya.
  2. Peringatan jika ada siswa yang diterima masuk STAN ternyata siswa tersebut sudah diterima di PTN jalur PTN maka kelulusan masuk STAN akan dibatalkan.
  3. Pelaksanaan tes STAN dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan daftar ulang anak-anak yang sudah diterima di PTN jalur SNMPTN
  4. Pengumuman hasil tes STAN yang terakhir dilaksanakan sebelum pelaksanaan pendaftaran PTN jalur SNMPTN dengan maksud bagi anak-anak yang pandai yang telah diterima di STAN tidak akan mencoba masuk PTN, karena memang siswa itu keinginannya ke STAN. Sekali lagi bukan maksud kami untuk mengintervensi lembaga pendidikan STAN.

Perlu diketahui siswa kami yang diterima masuk PTN jalur SNMPTN 2016 ada 106, padahal jumlah penerimaan masuk PTN jalur SNMPTN secara Nasional berkurang menjadi 40%.

Sebaiknya ada kerja sama/ koordinasi antar PTN dengan lembaga pendidikan STAN tanpa menganggu otoritas masing-masing pihak. Hal ini diharapkan bisa mengurangi praktik “spekulasi”masuk PTN sehingga tidak perlu adavane dikorbankan.

Mungkin Anda Menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *